Kenangan Bersama Scoopy Coklat, si Cantik Tukang Jajan

Sekembalinya ke Jakarta di Desember 2013 untuk melanjutkan pendidikan setelah 2 tahun di Kupang, gue segera mencari motor bekas untuk operasional sehari-hari.. Saat itu, di pikiran gue udah menetapkan pilihan ke Suzuki Satria FU tahun-tahun awal. Tapi apa mau dikata, nyonya lagi kepengen motor matik, tepatnya Honda Scoopy. Gue ngalah. Berbekal uang 7,5 juta hasil penjualan Skywave, pencarian gue mulai di situs-situs belanja online.

Continue reading

Advertisements

Kenangan Bersama Suzuki Skywave

Suzuki Skywave adalah motor matik pertama gue. Skywave menjadi milik gue awalnya bukan karena kesengajaan. Namun karena saat itu emang gak ada pilihan lain 😀 ..

Oktober 2011, gue menerima SK penempatan kerja ke Kupang, NTT. Gue yang sejak tahun 2005 gak bisa lepas dari yang namanya sepeda motor, langsung berniat mencari motor bekas untuk operasional gue. Saat itu, Jupiter MX generasi pertama yang udah menemani gue selama 6 tahun (November 2005 – Oktober 2011) gue pulangkan ke rumah di Brebes.

Continue reading

Turing Jakarta – Padang: (Part 4/Terakhir) Muara Bulian – Padang.. After a Long Long Journey, Finally!!

Jum’at, 5 Februari 2016

Setelah hari-hari sebelumnya berangkat jam 10.30, jam 7.40, dan jam 8.40, pagi itu gue bersiap-siap lebih awal. Hal ini karena jarak yang harus gue tempuh lebih jauh dibanding sebelumnya dan gue gak mau menginap lagi. Jakarta – Bandar Lampung sejauh 215 km, Bandar Lampung – Palembang sejauh 370 km, Palembang – Muara Bulian sejauh 290 km, dan kira-kira gue harus menempuh sekitar 470 km lagi untuk sampai ke Padang.
Continue reading

Turing Jakarta – Padang: (Part 3) Palembang – Muara Bulian (Jambi),, Fiuuuh Penuh Kejutan

Kamis, 4 Februari 2016..

Hari ketiga dari perjalanan panjang Jakarta – Padang dimulai. Awalnya gue merencanakan berangkat jam 7 dari Palembang supaya bisa menginap di Muara Tebo agar perjalanan hari terakhir tidak terlalu jauh. Karena keasikan ngobrol sama Akas, akhirnya jam keberangkatan molor sampai jam 8.40, hehehe.. it’s okay lah.. Gue pun akhirnya menjadwalkan untuk menginap di Muara Bulian, 100 km sebelum Muara Tebo. Soalnya gue yakin gak bakal kekejar ke Muara Tebo hehe..
Continue reading

Turing Jakarta – Padang: (Part 2) Bandar Lampung – Palembang

FYI: Tulisan ini merupakan tulisan kedua (tulis ulang) tentang Rute Bandar Lampung – Palembang. Sebelumnya udah gue tulis panjang lebar dan udah diposting tapi entah kenapa tiba-tiba menghilang tulisannya T_T .. Yaudah akhirnya harus gue tulis ulang walaupun banyak detil yang terlupakan..


 

Selepas beristirahat di rumah mertua di Bandar Lampung.. Pagi itu gue kembali berangkat menyusuri jalan lintas sumatera menuju Kota Padang. Di rute kedua ini, target gue adalah sampai Palembang sebelum gelap menjemput.

IMG_20160202_131902

Perjalanan kali ini, gue tak lagi sendiri, tapi ditemanin Agung, adik ipar.. Tapi tetap gue sendiri yang menyetir karena Agung belum pernah pake mobil matic.

Perjalanan dimulai. Kendaraan-kendaraan besar dari jawa menuju sumatera sudah banyak terlihat. Overall, jalanan Lampung pun termasuk jelek.. Di awal-awal perjalanan, jalanan cukup bagus walau sesekali terlihat lubang disana sini. Semakin menjauhi Kota Bandar Lampung, jalanan semakin jelek dan didominasi oleh jalan bergelombang akibat seringnya dilalui kendaraan besar nan berat. Sampai di daerah ini, jalanan mulus hanya ditemui sesekali. Hal ini terjadi sampai daerah perbatasan dengan Sumatera Selatan.

Truk truk besar semakin sering terlihat di jalan, dan notabene jalannya lambat dan sangat lambat. Di sini, perhitungan kita dalam menyalip rombongan truk benar-benar diuji. Salah perhitungan sedikit aja, bisa-bisa kita tabrakan dengan kendaraan dari arah bersebrangan.

Jalanan yang jelek memaksa otak untuk semakin meningkatkan konsentrasi. Karena saat menyalip truk dan ternyata ada lubang besar, bisa kelar hidup gue..

Di satu titik, jalanan rusak parah sehingga semua sopir wajib memelankan kendaraan. Momen ini dimanfaatkan seorang lelaki berpenampilan layaknya preman untuk menjual air mineral botol. Gue perhatikan, dia bukan sekedar menjual. Tapi lebih tepatnya ke memaksa para sopir kendaraan besar untuk membeli minumannya yang dihargai 10 ribu perbotol, padahal di warung sebelah cuma 3 rebu.. Ternyata, targetnya hanya kendaraan-kendaraan besar saja. Kendaraan kecil macam mobil gue dicuekin.. Fiuuuh.. Tapi tetep hati-hati ya guys kalau lewat sini (nama daerahnya lupa, sepertinya dekat-dekat Menggala)..

Memasuki wilayah Sumatera Selatan, jalanan membaik.. Jarang dijumpai jalan bergelombang.. Jalanan semakin mulus,, tapi konsentasi justru meningkat. Kenapa??? karena terkadang ada lobang besar yang siap menyantap roda mobil.. Kalau terbuai, pengennya memacu kecepatan. So, konsentrasi meningkat di jalanan Sumatera Selatan ini..

IMG_20150811_203007

Pemandangan di sepanjang jalan Lampung dan Sumatera Selatan ini monoton dan membosankan… Hanya ada bukit-bukit kecil dengan sedikit pepohonan. Lalu berganti dengan kebun-kebun kelapa sawit. Belum ada pemandangan yang mampu menyegarkan mata gue..

Minimnya media hiburan di mobil gue juga menambah kebosanan.. Hanya memanfaatkan radio sebagai hiburan, yang itu pun sinyalnya timbul tenggelam dan berganti-ganti channel karena daya jangkau terbatas.. Belum lagi lagu-lagunya yang bukan selera gue. Hoaaaam.. Udah minim hiburan, pemandangan membosankan, banyak lubang di jalan, banyak truk,, beuuuh harus extra waspada…

IMG_20160203_195457Senja mulai terlihat ketika gue sampai di Kota Palembang.. Pas,, sesuai target untuk memasuki kota sebelum malam. Bermodalkan GPS dan telpon ke Akas (kakeknya Ayu), akhirnya gue sampai di rumah Akas menjelang Isya, ya walaupun diselingi nyasar-nyasar dikit 😀 ..

Gue dan Agung disambut dengan hangat oleh Akas dan anak serta cucu-cucunya, kecuali anjingnya Akas yang galak banget, tapi untung diiket :V .. Malam itu gue cepat-cepat agar tubuh kembali fit untuk perjalanan esok hari dari Palembang menuju Muara Bulian, Provinsi Jambi..

 

 

 

 

 

Turing Jakarta – Padang: (Part 1) Jakarta – Bandar Lampung

SK yang gue tunggu-tunggu akhirnya keluar juga di pertengahan Januari. Sesuai permintaan, akhirnya kantor menempatkan gue di Padang, Sumatera Barat. Gue memang memilih Padang sebagai tempat persinggahan berikutnya setelah menyelesaikan pendidikan lanjutan. Sebetulnya, Sumatera bukanlah tempat yang gue idam-idamkan. Gue lebih menyukai daerah Indonesia Bagian Tengah. Tapi karena Ayu mendapat beasiswa melanjutkan pendidikan di Padang, akhirnya mau gak mau gue juga harus berusaha ke Padang.
Continue reading