Turing Jakarta – Padang: (Part 1) Jakarta – Bandar Lampung

SK yang gue tunggu-tunggu akhirnya keluar juga di pertengahan Januari. Sesuai permintaan, akhirnya kantor menempatkan gue di Padang, Sumatera Barat. Gue memang memilih Padang sebagai tempat persinggahan berikutnya setelah menyelesaikan pendidikan lanjutan. Sebetulnya, Sumatera bukanlah tempat yang gue idam-idamkan. Gue lebih menyukai daerah Indonesia Bagian Tengah. Tapi karena Ayu mendapat beasiswa melanjutkan pendidikan di Padang, akhirnya mau gak mau gue juga harus berusaha ke Padang.

Setelah SK keluar, gue merencanakan untuk meninggalkan Jakarta dan menuju ke Padang di awal Februari. Hal yang paling bikin pusing saat mutasi gini adalah mindahin barang-barang. Sebagian barang di rumah kontrakan gue jual-jualin, sebagian ditaruh di rumah nenek di Bekasi, dan sebagian gue bawa ke Padang, termasuk mobil yang rencananya gue kirim via kargo.

Gue berencana untuk mengirim mobil gue dan di dalamnya gue taroh barang-barang gue. Gue rajin cari-cari info kargo alias jasa pengiriman. Setelah beberapa kali menghubungi berbagai macam kargo, ternyata untuk mengirim satu mobil udah di luar budget gue. Akhirnya gue putuskan untuk membawa sendiri si motuba dari Jakarta ke Padang.

Kekhawatiran gue ada dua, yang pertama apakah mobil gue akan sanggup menempuh jarak sejauh sekitar 1.400 km. Secara mobil gue adalah hatchback dengan ground clearance rendah dan usianya udah 11 tahun. Dan yang kedua apakah jalan lintas sumatera aman untuk dilalui. Gue rajin bertanya di forum-forum internet ataupun ke teman-teman yang udah pernah lewat jalan lintas sumatera.

Setelah mendapat masukan dari teman maupun dari forum, akhirnya gue memutuskan untuk melalui jalan lintas timur sumatera yang katanya relatif lebih aman dibanding lintas tengah ataupun lintas barat.

IMG_20160202_103906.jpg

barang bawaan banyak juga

Selasa, 2 Februari 2016, akhirnya gue berangkat meninggalkan Jakarta. Sebelum berangkat gue merasa sedikit kurang fit. Hal ini karena malamnya gue masuk-masukin barang ke mobil sampai jam 11 malam ditemani hujan yang cukup deras. Ternyata hal ini berpengaruh ke kondisi badan gue di pagi harinya. Jam 9.30 gue sarapan. Gue mencoba positif thinking kalau kondisi badan gue akan membaik 2 jam setelah sarapan. Tak lupa gue juga minum susu agar semakin fit. Jam 10.30 gue berangkat setelah mengisi bensin dan menambah tekanan angin di ban. Dari Utan Kayu, gue gak langsung masuk tol, tapi menuju Tugu Tani, Harmoni, dan akhirnya masuk tol di Jakarta Barat. Kondisi di dalam kota seperti biasa, lumayan macet. Masuk tol pun ternyata kondisi masih macet walaupun tergolong lancar.

Memasuki daerah Serpong Gading, kondisi tol udah semakin lancar dan akhirnya gue bisa berkendara stabil di kecepatan 80 – 100kmh. Jam setengah 2 akhirnya gue udah sampai di Merak, bayar tol 41 ribu, lalu masuk kapal bayar 328ribu.. Wah wah wah, baru di Merak ternyata pengeluaran udah banyak aja haha.. Gak lama setelah masuk, kapal pun berangkat walaupun penumpangnya sedikit. Gue duduk di kursi luar dan pramugara (eh kalau di kapal laut pramugara juga bukan ya?) menjelaskan apa yang harus dilakukan apabila terjadi keadaan darurat. Wah jelasinnya jago bro, sesekali ngelucu. Makanya orang-orang juga pada merhatiin. two thumbs up deh buat bapak pramugaranya. Kelar jelasin, si bapak lanjutin dengan jualin produk-produk seperti tas, buku, sampai obat cina.. 😀 😀 .. Dan lariiis,, wah jago juga si bapak ilmu marketingnya. ahaha..

IMG_20160202_131902.jpg

si Boggil udah nangkring di kapal

Setelah si bapak selesai jualan, gantian para biduan dangdut unjuk kebolehan suara dan goyangannya diiringi organ tunggal.. Beberapa biduan lainnya keliling buat narikin duit. Kalau kita gak ngasih, itu mereka akan tetep joget-joget deket kita sampai kita ngasih uang ahaha..

IMG_20160202_134410.jpg

Setengah jam kemudian, gue merasa mengantuk. Gue pun masuk ke ruangan. Kapal ini menyediakan ruang lesehan yang bisa kita tempati tanpa harus mengeluarkan biaya sepeser pun. Gue pun tidur dengan cukup pulas, dan ketika bangun, kondisi badan gue udah lebih fit dan merasa lebih siap melanjutkan perjalanan. Nampaknya bener nih, kenapa tadi badan gue lemes gara-gara hujan-hujanan semalam dan telat sarapan.

IMG_20160202_142712.jpg

2,5 jam kapal berlayar, akhirnya sampai juga di pelabukan Bakauheni. Jalanan dari Bakauheni menuju Bandar Lampung gak bisa dikatakan bagus tapi masih cukup layak. Tambalan disana-sini, dan beberapa ada jalan berlubang tapi tidak terlalu signifikan berpengaruh terhadap perjalanan. Satu dua terlihat jalan dengan lubang yang lumayan. Asal kita hati-hati, menurut gue masih tergolong aman lah. Karena belum makan siang, gue mampir di rumah makan Padang “Siang Malam”, favorit persinggahan sebelum melanjutkan perjalanan. Setelah menempuh perjalanan selama 8 jam, pukul 6.30 sore akhirnya gue sampai di rumah mertua di Bandar Lampung. Gue segera beristirahat untuk mempersiapkan kondisi badan agar lebih fit saat melanjutkan perjalanan keesokan harinya.

Oya, demi keamanan, gue merencanakan untuk berangkat hanya di waktu siang. Kalau ketemu malam, gue harus segera mencari tempat beristirahat. Setelah Lampung, target persinggahan gue berikutnya sebelum menuju Padang adalah Kota Palembang. Gue akan menginap di rumah saudara di pusat Kota Palembang.

Nah, bagaimana perjalanan dari Bandar Lampung menuju Palembang? Apakah selancar dari Jakarta ke Bandar Lampung? Atau nuansa dan kondisi jalannya berbeda? Gue akan bahas di part 2..

Lanjutttt:

Part 2 : Bandar Lampung – Palembang

Part 3 : Palembang – Muara Bulian (Jambi)

Advertisements

15 thoughts on “Turing Jakarta – Padang: (Part 1) Jakarta – Bandar Lampung

  1. Pingback: Turing Jakarta – Padang: (Part 2) Bandar Lampung – Palembang | travelmotoblog

  2. Ana urang awak, dari lima puluh koto payakumbuh…

    Ana biasa pakai jalur tengah, mau turing pake motor ato pake mobil,

    kenapa..?

    Jalur ini rame,
    jalur ini cenderung bagus jalannya, karna merupakan jalur utama lampung – aceh.

    Spbu banyak…. Meskipun pk motor karisma, ga perlu bawa derigen cadangan.

    Kalo buat newbie
    cuma 1 saran ana, ini berlaku kemanapun, hindari jalan malam jika ga siap mental…..

    Jalur timur justru lebih rawan dibanding jalur tengah….

    Sipelempar batu lebih mengincar bus2 eksekutif dibanding mobil pribadi, makanya banyak bus2 npm yg pakai jaring besi dikaca depannya…..

    Perasaan, semua rm di sumatra sampai padang namanya siang malam deh…..

    Kalo ana biasa istirahat d bandar jaya d RM Begadang 3

    salam aspal sumatra…

    Like

    • nah, takutnya si pelempar batu mau ngincer bus tapi apes kena kita kan ngeri gan hehe…
      ane sih dibilangin sama beberapa temen yang lebih ngerti daerah sana dibanding ane katanya lintas timur saat ini lebih aman gan..
      Ada RM siang malam, ada RM pagi sore gan, haha.. kalau di jalur Bakauheni Lampung itu RM Siang Malam.. di jalur Lampung Palembang gue liat RM pagi sore 😀
      Salam aspal sumatera yang bervariatif..

      Like

  3. ane udah sering tuh touring Jakarta padang pas Lebaran…, Bawa Kaleng krupuk matic…
    dari yang 3 orang gantian nyetir non stop, sampai sendirian Nonstop. Selalu always jalur tengah.
    jalur barat bagus pemandangannya…., tapi jarang pom bensin.
    Jalur timur malah belum pernah.., dengan pertimbangan lebih jauh jaraknya ke padang.

    Jalan malam sebenarnya asik lho…, kita bisa ambil tikungan berpatokan lampu…, kl arah berlawanan nga ada lampu… sikat. Beda sama siang, kita harus lebih perhitungan saat akan menyalip yang didepan. karena bisa aja ketemu lawan di mulut tikungan…,

    nasihat dari bokap kl lewat lintas tengah…, usahakan lewat lahat pagi/siang hari. kl kira kira nga bisa mending cari penginapan terdekat. Usahakan konvoi saat melewati jalur rawan/ hutan

    Like

    • Nah itu dia broo,, lebih banyak saran-saran kalau lintas tengah,, jadi ane pilih yang sarannya lebih dikit aja jadinya 😀 … tapi penasaran juga sih, suatu saat harus lah lewatin lintas tengah dan timur juga 😀

      Like

  4. Pingback: Turing Jakarta – Padang: (Part 3) Palembang – Muara Bulian (Jambi),, Fiuuuh Penuh Kejutan | travelmotoblog

  5. Pingback: Konsumsi BBM Si Boggil (Hyundai Getz), Borosnyaaa | travelmotoblog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s