Memanjakan mata menjelajah Pulau Semau, Nusa Tenggara Timur

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Waktu masih tinggal di Kupang, NTT, ada satu pulau indah yang sebenernya deket banget sama Kupang tapi belum sempet gue kunjungi, pulau Semau namanya. Setelah 1 tahun meninggalkan bumi Flobamorata (sebutan lain NTT, kependekan dari Flores, Sumba, Timor, Alor dan Lembata), rasa penasaran itu tak jua hilang. Foto-foto di blog tinae ( Hunting Paradise 8 pantai dan 2 kolam di Pulau Semau )dan mas beki ( Jelajah Semau: Perjalanan Tanpa Arah (1) ) selalu menggoda gue untuk segera berkemas meninggalkan hiruk pikuk ibukota dan sejenak memanjakan mata di pulau semau.

Akhirnya gue merealisasikannya di pertengahan Maret. Gue berangkat ke Kupang sendirian, tapi disono gue gabung sama temen-temen yang gue kenal dari Mbak Arin. Mbak Arin ini dulunya tinggal di Kupang dan sekarang di Manado. Doi demen banget jalan-jalan dan sering jadi host para traveler baik dari dalam maupun luar negeri, biasanya via couchsurfing.com. Sama mbak Arin gue dimasukin ke grup BBM “Penyelup Hepi” yang menampung orang-orang pecinta snorkeling dan traveling di Kupang. Kebetulan mereka mau pada snorkeling sore itu di perairan Bolok, dan akhirnya gue gabung. Kelar snorkeling, kami nyusun planning buat ke Semau esok hari. Disepakati kumpul jam 9 di pelabuhan tenau sepulang temen-temen dari gereja.

Bicara tentang pulau semau, sebenernya pulau ini terkenal angker dan katanya banyak kejadian mistis. Sering gue denger dari orang-orang di kantor, bahwa di pulau semau banyak orang-orang yang masih memiliki ilmu-ilmu ghaib, ya macam dukun lah kalo di Jawa… Serem juga sih kalo denger cerita-cerita kaya gitu, tapi foto-foto pantai disono selalu menggoda gue untuk dateng ke pulau ini. Ah bodo amat lah, yang penting tujuan gue bukan untuk membuat keonaran di pulau ini, tujuan gue untuk menikmati keindahan alamnya.

Keesokan harinya, yang dipastikan ikut gue, om Tony, bro Hend, bro Broker, bro Engky, dan sist Esty. Perjalanan ke pulau semau dimulai dari pelabuhan tenau. Kami berenam naik kapal kayu kecil, termasuk motor yang kami bawa untuk menuju pantai di ujung lain pulau semau. Tarif sekali jalan untuk tiap orang Rp20.000, kalo bawa motor totalnya Rp50.000 untuk motor+1 orang. Tapi berkat hasil negosiasi bro Engky, akhirnya kami cukup membayar total Rp300.000, pulang pergi buat 6 orang dan 4 motor. Oiya, gak lupa sebelumnya kami bawa bekal makan siang karena disono nggak ada warung makan.

Ketinggian air pas buat naikin motor ke kapal

Ketinggian air pas buat naikin motor ke kapal

Motor yang ikut nongkrong di kapal

Motor yang ikut nongkrong di kapal

Gak nyampe setengah jam, kapal udah sampai di pulau semau. Entah nama pelabuhannya apa, tapi yang jelas sederhana banget. Cuma sebatas cekungan dan dermaganya sangat bergantung pasang surut air buat naik-turunin motor, 😀 ..

sampai dermaga pulau semau

sampai dermaga pulau semau

???????????????????????

Nurunin motornya susah broo,, musti diangkat dan di depan karang terjal menunggu

Tapi perjalanan kami belum selesai, untuk sampai ke pantai liman yang menjadi tujuan utama kami, katanya diperlukan waktu sekitar 1 jam. Gak lupa sebelumnya cek kondisi ban dulu, dan ternyata ban motor Engky kempes, untungnya om Tony bawa pompa, beres daah…

pompa dulu gan

pompa dulu gan

Diantara kami berenam ternyata belum ada satupun yang pernah ke pantai liman, tujuan akhir kami. So, kami rajin tanya-tanya penduduk sekitar. Tipikal orang NTT, orang-orang di pulau ini ramaah banget, mereka sangat welcome dan senang membantu kami. Gak jarang anak-anak kecil di sepanjang perjalanan menyapa kami. Bayangan gue tentang pulau semau yang seram itu sirna.

om Tony dan jalan sempit

om Tony dan jalan sempit

Sedangkan untuk jalan yang kami lalui, rusak disana-sini. Udah jalannya kecil, banyak lubang lagi, musti hati-hati banget bawa motornya. Apalagi di awal perjalanan, tiba-tiba hujan turun, untung gue bawa plastik, kamera dan handphone gue masukin plastik dan perjalanan tetap dilanjutkan. Ada untungnya juga sih hujan, soalnya panas matahari ketutup awan, tapi kondisi ini cuma bertahan sebentar.

Sebelum sebuah persimpangan, kami bertanya ke anak-anak remaja tanggung, dan mereka merekomendasikan untuk belok kanan ke jalan tanah putih dilanjut tanah pasir menyusuri pantai. Kami ikutin saran mereka, wah jalan pasir ternyata bikin motor Engky (gue bonceng Engky) kepeleset terus, jadi harus jalan pelan-pelan. Coba pake KLX, asik nih jalan di tempat beginian. Sejam berlalu, dan setengah jam kemudian masih belum sampe, padahal kata Mbak Arin sejam juga nyampe. Akhirnya setelah lebih kurang 2 jam, barulah sampe di tempat tujuan. Gue mikir, jangan-jangan anak-anak remaja tadi ngerjain kami nih, atau mungkin juga sengaja biar kami bisa melihat keindahan pantai sepanjang perjalanan.. Ya emang sih walaupun lama, tapi pemandangan yang disuguhkan emang menggoda. Cuma karena bukan tujuan akhir, jadi kami terus lanjutin perjalanan. 2 jam di atas motor tanpa pakai helm, gosong dah ni muka. Sebenernya bukan gue banget gak pake helm, tapi namanya cuma ikut nebeng, hehehe..

rasanya pengen nyebur ke laut

rasanya pengen nyebur ke laut

Pas udah nyampe, wah seneng banget rasanya, udah lama banget gak ngerasain halusnya pasir dan pemandangan pantai yang memanjakan mata. Tipikal pantai-pantai di NTT, pasirnya putih dan halus berpadu laut biru dan langit cerah, surga banget nih buat para pecinta pantai..

asik nih buat guling-guling

asik nih buat guling-guling

bacground bukin Liman

background bukin Liman

Jepret sana jepret sini, ngumpulin foto sebanyak-banyaknya buat kenang-kenangan. Tapi perjalanan yang panjang dan melelahkan membuat perut mulai keroncongan dan memaksa kami semua untuk sejenak beristirahat menyantap makan siang. Saking lapernya, nasi padang gue abisin secepat kilat dan masih terasa kurang. Padahal nasi padang di Kupang seporsinya buanyaaak banget.. Gak lupa sampah-sampah kami kumpulin buat dibawa pulang. Jangan sampe sampah berserakan merusak keindahan pulau..

photo by om Tony

photo by om Tony

otw bukin liman

otw bukin liman

di belakang banyak sapi penduduk

di belakang banyak sapi penduduk

Kelar maksi, kami bergerak menuju bukit kecil untuk melihat view yang lebih luas. Banyak sapi warga yang dilepasin disono, so banyak bull-shit alias eek sapi haha, gue pun harus hati-hati melangkah jangan sampe nginjek. Wow, view dari bukit ternyata beneran lebih kece, breathtaking!! Masha Allah indah banget, udah lama gue gak menikmati pemandangan kaya gini.

???????????????????????

Sampai di puncak, semua terlihat lebih indah lagi, di sisi kiri terdapat hamparan pasir putih dan laut yang biru, dipadu dengan gerombolan pohon lontar, di sisi kanan pun begitu. Di depan, ada sebuah pulau kecil tak berpenghuni. Sedangkan melihat ke arah berlawanan laut, kita bisa liat pepohonan yang hijau. Siang-siang, panas, rasanya pengen nyebur, tapi gak bawa baju ganti.. 😀 .. Si esty malah bawa snorkel gear + live vest juga gak kepake :V ..

sisi kiri pulau

sisi kiri bukit

sisi kanan bukit

sisi kanan bukit

???????????????????????

DOPE!!

DOPE!!

We are on top..  photo by Om Tony

We are on top..
photo by bro Hend

Puas menikmati pemandangan dari atas bukit, kami pun turun dan capcus menuju pantai-pantai lain yang ditemui di sepanjang perjalanan, sekalian jalan pulang. Entah nama pantainya apa, yang gue tau pantainya keren-keren, pasir putih yang luas. Bikin pengen main bola di pantai terus mandi di laut terus leyeh-leyeh, aah surga… Tapi karena waktu yang gak memungkinkan, ya akhirnya cuma foto-foto doang.. 😦  ..

Bukit liman dari kejauhan

Bukit liman dari kejauhan

tidur siang dulu bro

tidur siang dulu bro

banyak karang, mirip pulau Timor

Di perjalanan pulang gue udah lebih rileks, so gue abadikan momen-momen di perjalanan. Ada kerang yang digunakan penduduk setempat untuk membuat garam, tak lupa gue abadikan. Ada juga rumah adat pulau semau, tapi rumah kaya gini udah jarang gue temui sepanjang perjalanan. Dan ada juga jembatan unik memotong sungai, bukan jembatan sih, tapi jalan membelah sungai. Saat sungai meluap dipastikan jalan ini ketutup sungai. Hmmm, macam sungai yang melewati jalan di Taman Safari Indonesia Indah gitu deh..

jalan setapak

jalan setapak

jalan pasir

jalan pasir

pembuatan garam

pembuatan garam

jembatan pembelah sungai

jembatan pembelah sungai

rumah adat

rumah adat

Saat perjalanan pulang, kami tanya penduduk setempat apakah ada jalan lebih cepat menuju dermaga tempat kami datang (lupa nama dermaganya). Dan ternyata ada dan kami lewat arah sana. Ternyata lewat jalan ini, perjalanan Cuma satu jam. Lebih cepet sih, tapi pemandangannya monoton, Cuma rumah penduduk, semak belukar, dan sawah.

Akhirnya kami sampai di dermaga dan melanjutkan perjalanan ke Kupang. Perjalanan pulang terasa sedikit lebih lama karena melawan arus air. Fiuhh,, melelahkan banget perjalanan ini, tapi puas.. Sayangnya kami gak sempet menjelajah sisi lain pulau ini seperti halnya yang dilakukan Tinae. Padahal sebenernya banyak spot lain yang gak kalah oke. Dulu Tinae menjelajah bareng temen-temen dokter yang stay di pulau semau dan bermalam. So udah lebih tau recommended spots and how to get there dan waktunya lebih leluasa..

Ah terimakasih NTT, untuk keindahan alammu, keramahan pendudukmu, dan keunikan budayamu.

Advertisements

15 thoughts on “Memanjakan mata menjelajah Pulau Semau, Nusa Tenggara Timur

    • wah iya saya liat blog mas usman, abis jalan2 ke tablolong ya? saya 3 kali kesana cuma blm dibuat artikel.. hehe..
      thanks dah mampir mas..

      Like

  1. Pingback: Throwback: Pulau Kanawa, Kepingan Surga di Taman Nasional Komodo | travelmotoblog

  2. Pingback: Semau Island, Paradise in The Mystical Island - Indonesia Adventure

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s